Puisi

Bukan Aku Tak Menghormatimu

Bukan Aku Tak Menghormatimu

I
Bukan aku tak menghormatimu
Jika chat, mesej, telepon, surat, atau candamu tak kutanggapi dengan melucu

Bukan aku tak menghargaimu
Bila pintu-pintu kedekatan itu tak kusambut seperti harapmu

Bukan aku tak mengakui kehebatanmu
Jika aku memilih pergi tanpa secuil pun pujian untukmu

Karena dia lebih dulu bertemu denganmu

Baru Saja

Baru saja aku berkata Allah aku lelah

Baru saja aku berkata Allah aku letih

Baru saja aku berkata Allah aku ingin menyerah

baru saja aku berkata Allah aku tidak mampu

Baru saja..

dan lihatlah Allah mengangkat bebanku..
dengan lembut Ia mengusap air mataku…

dan menyadarkanku..

“belum lelah” Dia berkata

“belum letih, belum jatuh” Dia berseru

Aku Cinta

aku cinta
tapi bukan cinta yang seperti itu..

aku cinta
namun bukan cinta yang lekang oleh waktu

Aku cinta
tapi bukan ingin ku merengkuh dunia di dalam hati

aku cinta
tapi bukan cinta yang membuat ku buta dan bertingkah tanpa tahu arah

aku cinta
yang membuat ku terjaga akan realitas dunia

aku cinta
hingga kuletakkan di tanganku dunia dan kupeluk akhirat dalm dada..

silau akan aku

Silau abu abu berselimut kabut kelabu

Diluar angin menderu

Tak Ada Kelam

Kawan, tetaplah kau
Kau yang perkasa
Kau yang bergelora
Kau yang berkobar
Kau yang kau
Jangan pernah luluh
Teruslah berjalan
Kelam yang ada bukanlah kelam
Kau belum berkobar
Kau belum bergelora
Kau belum perkasa
Kau belum kau
Kau adalah kau
Tunjukkan padaku!

Mimpi yang Memanggil

Jembatan yang patah
Kan kurangkai kembali
Terlalu lama aku di tempat ini
Ingin meneruskan mimpi
Mimpi yang menghilang
Memanggilku berlari
Mimpi ini
Mimpi kemarin yang kurajut lagi
Jembatan yang patah
Kan kurangkai kembali
Menghantarkan aku
Tak mungkin tak berlari
Di ujung jembatan
Bersiap meniti, tak mungkin berbalik

Dua Syair Untuk Tanah Quds

Dua puisi yang digaungkan dalam Aksi Solidaritas Palestina 11 Desember 2009:

Aku Anaknya Bangsa

Sebuah rintihan dari kehidupan, yang nyata dan jelas adanya. Akankah ada kisah yang lebih indah dari sebuah kepedulian kita…

AKU ANAKNYA BANGSA

(Anak I)

Sapa salam untuk negriku katulistiwa
Kenalkan aku anaknya bangsa yang lahir di ujung senja
Di tepi emperan
Di bawah jembatan
Di pinggir perempatan

Aku anaknya bangsa yang besar dalam kerinduan

majalah tinta

User login