Istriku Gila Buku

Aku sangat mencintai istriku, Mayang. Apalagi sejak ia memutuskan untuk menetap di Balikpapan, aku makin sayang dan mencintainya. Sebetulnya, hal ini tidak sejalan dengan apa yang telah kami sepakati di awal pernikahan kami. Sejak khitbah, kami sudah sama-sama sepakat dan ridho untuk menjalani LDL. Long Distance Love. Balikpapan-Jogja.

Kami berdua memang bekerja pada satu instansi pemerintah yang sama. Peraturan dari kepegawaian memberi kesempatan bagi seorang istri untuk pindah kantor mengikuti kota penempatan definitif suami. Aku menyetujui kepindahannya ke Balikpapan bukan karena egoku semata. Alasannya lebih karena aku sayang Mayang dan perasaan tidak tega pada Mayang. Aku tidak tega mendengarnya menangis setiap malam di telepon sejak hari pertama kami menjalani LDL. Kangen, begitu kata Mayang ketika kami bermesej atau bertelepon.

Sejak Mayang tinggal di Balikpapan itulah aku semakin mencintainya. Ini adalah kali pertama bagi Mayang hidup menetap di luar Jawa dan jauh dari kedua orang tuanya. Rasa tanggung jawabku sebagai lelaki menjadi sangat besar. Aku selalu ingin berada didekatnya. Memberikan perlindungan seorang lelaki kepada perempuan yang dicintainya. Bagaimana pun, keputusan Mayang untuk pindah ke Borneo adalah karena ingin berada disisiku.

Aku selalu berusaha untuk bisa memenuhi keinginannya. Semampuku. Selagi aku memang bisa memenuhinya. Beruntung, Mayang bukan tipe wanita yang suka dengan hal-hal berbau glamour. Ia tidak suka mengoleksi perhiasan atau pun baju-baju seperti kebanyakan wanita. Untuk urusan mebel di rumah pun, ia tidak begitu ambil pusing dengan trend yang ada. Sebatas benda itu memang dibutuhkan dan bermanfaat, maka ia akan membelinya. Mayang juga tipe wanita yang tidak bergantung pada suami ketika ia memiliki keperluan untuk pergi ke luar rumah. Kebisaannya naik motor sendiri dan menyetir mobil sangat membantuku, sebagai suaminya, sehingga aku tidak perlu menyediakan waktu luang untuk mengantarnya ke tempat-tempat yang ingin ia tuju.

Tapi ada dua kebiasaan Mayang yang terkadang cukup mengusikku. Sifat manja dan gila buku yang dimilikinya. Dibesarkan dalam sebuah keluarga yang penuh cinta dan kasih sayang membuat Mayang tumbuh sebagai sosok gadis yang manja. Ada kalanya ia mampu mandiri memang, tapi Mayang sangat manja dengan cinta dan perhatian. Terlebih lagi ketika ia hidup jauh dari orang tuanya, kepada siapa lagi ia akan bermanja-manja kecuali kepada suaminya. Kepada diriku tentunya. Ketika manja itu datang di saat yang tepat, tentu saja tidak akan menjadi masalah. Tapi ketika sifat manja itu datang ketika aku sudah terlalu letih bekerja seharian di kantor atau saat aku punya banyak pikiran dan sedang tidak ingin diganggu, sifat manjanya ini sering membuat emosiku tersulut.
Kebiasaan Mayang lainnya yang membuatku tidak suka adalah gila buku. Secara pribadi, aku suka buku. Aku suka membaca walau tidak semua buku aku baca. Dan sikapku terhadap buku ini berbeda dengan Mayang. Ia penggila buku. Ketika berjalan-jalan di pusat perbelanjaan di Balikpapan pun, bukan department store yang menjual baju, tas, kosmetik, parfum, dan barang-barang yang disukai wanita pada umumnya, yang membuat Mayang betah tinggal berjam-jam. Tapi Mayang justru betah berlama-lama di sebuah toko dengan rak-rak yang penuh buku.

“Aku beli buku ini ya mas..” katanya suatu sore sambil menunjukkan tas plastik yang disediakan bagi pengunjung toko buku tersebut untuk memudahkan membawa ke meja kasir buku-buku yang hendak dibeli.
“Bukunya sebanyak itu mau diapain, Dek?” tanyaku sambil menatap wajahnya.
“Ya dibacalah, masak disemur.. Mas ini nanyanya kok aneh..” jawabnya sewot.
“Kemaren bukannya Adek udah beli banyak buku?” tanyaku lagi, dengan mengalihkan pandangan sembari melihat deretan buku yang ada di depanku.
“Beda donk mas.. Yang kemarin kan novel-novel diskonan.. Yang ini kan buku “Retorika Modern”, “Menulis dari Dalam”-nya Kompas, “Kumpulan Surat Cinta Bung Tomo”, “Antologi Puisi”, edisi terbaru buku PPN-nya pak Untung, “Kisah-kisah Sufi”..” jawabnya sambil terus menyebutkan judul buku-buku yang ada di dalam tas plastik itu.
“Kalo bukunya memang Adek baca, ya dibeli aja.. Tapi gak usah banyak-banyak.. Prioritaskan mana yang mau dibeli dulu, jangan sampai sudah beli banyak tapi buku-buku itu nggak Adek sentuh..” jawabku lagi.
“Hukaysss.. Siap Bos!” katanya dengan nada girang.

Aku tahu, tidak satu pun buku-buku itu yang ia kembalikan ke rak. Semua buku-buku yang telah dipilihnya pasti akan dibelinya. Sebenarnya aku ingin mengingatkannya tentang tumpukan buku-buku di rumah yang belum ia baca. Bahkan lebih tepatnya, belum ia sentuh. Buku-buku itu masih tertumpuk rapi di sudut kamar tidur, lengkap dengan bungkus plastik, bar code, dan label harganya. Tapi mengingatkannya tentang tumpukan buku-buku yang belum ia baca saat ia tengah sakau dengan rak-rak penuh buku itu, sama saja nyari ribut di tempat umum.

Mayang selalu punya banyak alasan ketika ia ditegur tentang kegilaannya terhadap buku. Pernah di suatu malam aku menanyakan nasib tumpukan buku-buku yang belum sempat disentuhnya itu. Tumpukan buku-buku di sudut kamar tidur itu, jujur saja, mengganggu pemandangan. Kamar berukuran 3x5 meter itu tampil manis dengan cat berwarna biru muda dan beberapa aksesoris ruangan yang senada. Mulai dari korden, kipas angin gantung, lampu meja, sprei, sarung bantal dan guling, selimut, sisir, cermin, gantungan baju, rak, bahkan sandal tidur berbentuk boneka milik Mayang pun dibeli senada dengan warna ruangan. Tapi tumpukan buku-buku di sudut ruangan itu, bagiku cukup mengganggu. Dan tampaknya memang hanya bagiku. Karena bagi Mayang, tumpukan buku-buku itu menjadi daya tarik tersendiri baginya ketika ia berada di kamar tidur.

“Buku-buku itu kenapa tidak kau sentuh, Dek..?” tanyaku di suatu malam.
“So many books so little time, Mas..” jawabnya singkat sembari mengoleskan minyak zaitun ke wajahnya yang bersih.
“Frank Zappa.” kataku tidak kalah singkat.
“Hehehe.. Mas tau juga kalimat itu? Iya, aku meng-quote kata-kata Frank Zappa.” kata Mayang sambil menatap diriku yang terpantul dari kaca rias di depannya.

Aku membaringkan tubuhku di atas tempat tidur. Membebaskan pandangan ke arah langit-langit kamar. Tidak ada cecak atau pun sarang laba-laba disana. Bersih. Dan pikiranku menerawang jauh.
“Dulu, Adek pernah menyesal karena satu buku.” kata Mayang membuyarkan lamunanku, melanjutkan pembicaraan kami malam itu. Kali ini ia sudah duduk di sampingku. Dan tentu saja, sembari membawa buku. Seperti malam-malam sebelumnya. Ia suka sekali membaca buku sebelum tidur.
“Hm?” kataku sambil mengalihkan pandanganku pada wajah cantiknya. Wajahnya yang diolesi minyak zaitun itu membuatnya kelihatan bercahaya. Mungkin karena efek minyak saja, sehingga wajahnya tampak mengkilat.
“Suatu kali Adek pergi ke toko buku. Seperti biasanya, Adek jalan-jalan berkeliling diantara rak-rak buku. Kemudian, di salah satu rak buku, Adek ketemu buku yang menarik dan bagus. Buku itu Adek bolak-balik, dibuka-buka sekilas isinya, sembari menimang-nimang keputusan untuk membeli atau tidak buku itu. Tapi setelah dipikir-pikir, kapan-kapan sajalah beli bukunya. Waktu itu, Adek lagi bokek. Hehehe.. Niatannya siy, nanti kalo udah punya uang, Adek balik lagi ke toko itu untuk beli buku yang dulu gak jadi dibeli..” terangnya panjang lebar, kali ini ia membalas tatapan mataku. Secara langsung, tidak lagi melalui pantulan cermin rias.
“Lalu?” kataku manja menirukan gaya bicaranya sembari terus menatap wajahnya yang berhias kaca mata minus.
“Pas adek dah punya uang dan balik ke toko buku itu lagi.. Eh, bukunya dah nggak ada.” katanya lagi, kali ini pandangannya telah beralih pada sampul buku yang tengah dipegangnya.

Ada cemburuku disana. Saat Mayang mengalihkan pandangan dariku dan menatap buku itu, ada senses yang kunamakan sebagai jealousy. Aku sebenarnya tidak tahu pasti apa definisi dari kata “cemburu”, tapi saat aku merasa seseorang yang kucintai memberikan perhatiannya pada hal-hal di sekitar di luar diriku, sehingga aku mengingingkan orang yang kucintai itu hanya memperhatikan diriku saja, bahkan terkadang pula aku jadi membenci hal-hal di luar diriku yang mampu mencuri perhatian dari orang yang kucinta, maka aku menamakan rasa itu sebagai cemburu. Dan buku yang ada di tangan istriku kala itulah yang membuatku merasakan cemburu. Rasa cemburu pada buku yang seiring berjalannya waktu, nantinya akan semakin besar dan cukup mengganggu hubunganku dengan Mayang.

“Sejak saat itu, aku jadi dendam. Dan aku berjanji pada diriku sendiri, tidak akan pernah melewatkan satu buku pun yang kuanggap menarik. Beli. Tidak boleh tidak. Karena belum tentu aku akan berjodoh lagi bertemu dengan buku itu. Ya. Sejak itu aku berjanji pada diriku sendiri, mas. Huh!!!” ucapnya kesal sambil memukul-mukul buku yang dipegangnya itu dengan tangan kanannya yang mengepal.

Aku menikmati saja kelakuannya yang seperti itu. Di lain waktu, dia memang suka bersikap lucu secara spontan. Setidaknya lucu menurutku. Wajahnya bisa tampak sangat polos dengan ekspresi wajahnya yang seperti anak kecil. Dan saat melihat wajahnya yang seperti anak kecil itu pula, rasa cemburuku yang tadinya sempat hinggap, hilang begitu saja. Ah, Mayang. Gadis lugu yang kucinta.

Mayang terus melanjutkan ceritanya tentang buku yang sempat membuatnya merasa menyesal seumur hidup itu. Tapi rasa kantukku kian besar. Dan suara Mayang di malam itu, kurasakan seperti nyanyian Nina Bobo’ yang mengantarku ke alam tidur. Gelombang alfa tengah menggelayutiku. Sayup-sayup masih kudengar suara Mayang bercerita. Kemudian gelap. Aku pun tertidur. Lelap.

***

Sebulan setelah kepindahan Mayang ke Balikpapan, aku mengajaknya makan malam di sebuah resto yang ada di Balikpapan. Kala itu niatku memang ingin menciptakan malam yang romantis bagi kami berdua. Walaupun kami menikah sekitar empat bulan yang lalu tapi kami masih merasa layak-layak saja untuk disebut sebagai manten anyar.

Mayang berdandan cantik malam itu. Ia mengenakan blouse berwarna dominan ungu pastel dengan hiasan lipit pada bagian bawah baju dan lengan. Malam itu ia tidak mengenakan rok berbahan jeans seperti yang biasa ia gunakan hampir dalam semua event. Mungkin karena ia paham bahwa malam ini adalah malam yang istimewa bagi kami berdua, ia pun berpenampilan lain. Dari ujung kepala sampai ujung kaki. Kali ini ia mengenakan rok bahan kain berwarna putih. Ia memakai kerudung berwarna pink kalem yang senada dengan warna blouse yang dikenakannya. Serasi. Ia mengenakan high heels berwarna ungu tua dengan hiasan batu-batu di atasnya. Aku sendiri tidak tau kalau Mayang memiliki koleksi seperti itu. Karena setauku, kemana-mana ia lebih suka mengenakan sandal jepit atau sepatu teplek. Penampilannya malam itu tambah wah dengan bros yang ia sematkan pada kerudungnya yang terjuntai lebar. Bros dari rangkaian batu-batu dan swarovski berwarna dominan ungu muda itu benar-benar menarik perhatian orang yang melihatnya. Cantik. Malam itu ia membawa tas putih dengan hiasan tiga buah mawar putih berbahan kulit yang juga berwarna putih. Lengkap. Dan penampilan Mayang malam itu benar-benar lengkap, ketika sebelum berangkat aku melihatnya membawa sebuah buku yang tebalnya sekitar lima senti meter yang ia masukkan dalam tas yang kini tergantung pada pundak kanannya.

Malam itu benar-benar malam yang istimewa bagiku. Kami berdua naik taksi yang kami pesan via telepon dan berangkat dari rumah kontrakan menuju resto yang telah aku booking sebelumnya. Kami berdua memasuki resto itu sebagai pasangan yang, setidaknya menurutku, tampak serasi. Aku merasa semua mata orang-orang yang ada di resto itu tertuju pada kami. Entah karena rasa GR-ku saja atau dalam kenyataannya mereka memang terus-terusan memandang kami. Ah, tapi aku tak peduli. Ini adalah malamku dengan Mayang. Malamku bersama istriku tercinta. Kulihat sekilas wajah Mayang ketika kami berjalan berdua menuju meja yang memuat papan bertuliskan “reserved”. Mayang tampak memasang tampang kalem, seolah kami memasuki mall yang sering kami kunjungi saat makan malam sepulang dari kantor. Tidak ada tampang kikuk, salah tingkah, tersanjung, atau apapun di wajah Mayang. Ia tampak datar. Walau senyum kecil itu terlukis di wajahnya dan tangan kirinya menggamit lenganku dengan mesra. Ah, indahnya.

Aku memundurkan kursi untuknya dan mempersilakannya duduk. Aku pun kini telah pula duduk di depannya. Kami berdua terdiam. Entah mau berbicara apa. Mungkin dalam diam pun sebenarnya kami telah berbicara. Tapi berbicara apa yang bisa dipahami dalam diam? Saat dua orang yang saling mencinta itu berbicara dalam bahasa cinta. Ck, bisa-bisa saja kalimat yang meluncur dari orang yang sedang di mabuk asmara. Tapi entah mengapa, di saat seperti itu, aku justru ingin pergi ke kamar kecil. Mungkin karena nervous atau pikiranku yang kacau saja, aku jadi ingin buang air kecil. Setelah pamit kepada kekasih hatiku, seolah ingin berkata “Mas akan segera kembali untukmu, Sayang..”, aku pun segera meninggalkan meja kami menuju toilet.

Dan ketika aku kembali dari toilet dan berjalan menuju meja kami berdua, betapa kagetnya diriku melihat apa yang kini ada di depan kedua mataku. Entah kenapa, ada panas yang menjalari seluruh tubuhku. Ada sebuah ketersinggungan besar yang menyulut egoku. Ego yang dimiliki oleh seorang lelaki sepertiku. Aku benar-benar tidak habis pikir. Tega-teganya Mayang berbuat demikian di malam istimewa bagi kami berdua. Ingin rasanya aku melabraknya habis-habisan. Menginjak-injaknya, membakarnya, atau menendangnya hingga jauh dari pandanganku malam itu. Mayang kulihat tampak berasyik masyuk dengannya. Mayang meletakkan buku, yang tadi dimasukkannya ke dalam tas, di atas meja dinner kami berdua. Ia membacanya dengan wajah berseri-seri, ekspresi yang sama seperti saat-saat Mayang membaca buku. Tapi entah kenapa, kali ini aku merasa ekspresi wajahnya yang berseri-seri itu menyakitkan hatiku. Tidak bisakah kau menundanya untuk satu malam saja, Yang? Setidaknya malam ini? Lakukanlah itu karena aku, Yang.. Karena aku yang memintanya.. Tapi kalimat itu tidak pernah sampai pada Mayang, karena hanya terucap di dalam hatiku sendiri untuk diriku sendiri.

Aku mencoba untuk menenangkan hati dan pikiranku sendiri. Aku tidak mungkin merusak acara malam ini hanya karena sebuah buku. Sebuah alasan yang tidak masuk akal. Terlalu sepele. Dan kekanak-kanakan. Tapi kenapa aku bisa benar-benar secemburu ini pada benda yang bernama “buku” itu? Bukankah buku adalah sumber ilmu? Bagus dong kalo ada yang sampai gila baca buku. Berarti ia bukan tipe manusia yang menyia-nyiakan waktu. Tapi kalo membaca buku di saat malam seromantis ini? Keterlaluankah bila aku cemburu? Atau aku memang terlalu kekanak-kanakan? Tapi siapa sebenarnya yang kekanak-kanakan? Aku? Atau Mayang?

Aku kembali duduk di meja itu dengan senyum yang kupaksakan terkembang. Dan aku bertambah emosi ketika Mayang membalas senyumku dengan kondisi halaman buku yang tetap terbuka. Tak bisakah kau memasukkan kembali buku itu ke dalam tas, Yang? Atau dilempar saja ke dalam kolam? Atau dibakar dengan api lilin yang ada di depan kita berdua saat ini?
“Baca buku apa, Dek?” tanyaku dengan suara yang berat.
“Oh.. Ini mas.. Omnibus.” jawabnya dengan senyum tanpa dosa.
APA??? Dia membaca novel Suparto Brata yang berbahasa jawa saat dinner seperti ini? Benar-benar keterlaluan! Aku berusaha mengontrol emosiku karena ketika itu seorang waiter datang menawarkan menu kepada kami. Sabar.. Sabar..

Aku meminta Mayang saja yang memilih menunya dan aku akan makan makanan yang sama seperti yang ia pesan. Saat Mayang memilih-milih menu dan sesekali bertanya kepada waiter tentang menu yang ada di daftar menu, aku menatapnya lebih lekat lagi. Berusaha memahami jalan pikiran wanita yang ada di depanku saat ini. Aku mencintainya kan? Tentu saja, jawabku. Lalu apa yang membuatku jengkel pada istriku ini?
“Mas, mau nambah pesan apa lagi?” tanya Mayang membuyarkan pikiranku.
“Enggak. Mas pesan itu aja.” jawabku singkat.

Selama beberapa detik, kami sama-sama larut dalam hening. Diam.
“Adek nggak berniat beli rak buku?” tanyaku. Entah pikiran apa yang sedang menggelayutiku, tiba-tiba saja pertanyaan itu terlontar.
“Eh? Kenapa Mas? Bukannya kita udah punya rak buku di rumah?” ia balik bertanya.
“Iya siy.. Tapi sepertinya kita butuh rak buku yang lebih besar. Nanti rencananya, mau mas letakkan di antara ruang tamu dan ruang tengah. Sekalian berfungsi sebagai hijab. Kalau korden seperti selama ini kan, bisa tersingkap kalo anginnya lagi kenceng dan pintu depan lagi dibuka.” paparku.
“Ooo,, sumonggo Mas saja. Kalo Adek siy setuju-setuju aja.” jawabnya.
“Iya. Nanti buku-buku yang ada di kamar, kita pindahin semua ke rak buku yang baru itu.” tambahku lagi.
“Ya kan nggak harus semua kan mas?” tanyanya.
Aku hanya mengerutkan kening. Aku mencoba memahami apa maksut pertanyaannya yang terakhir saat seorang waiter datang membawakan makanan pembuka kami. Sajian yang tampak lezat itu membuatku lupa dengan kalimat tanya Mayang yang terakhir.

***

Selesai survey tempat untuk acara gathering pegawai Kanwil Kalimantan Timur, aku langsung meminta ijin pulang duluan kepada Kepala Kantor. Siang ini, rak buku yang kupesan tiga hari yang lalu akan diantar ke rumah. Aku sudah titip pesan pada Mayang untuk menerima kiriman rak buku itu. Dan tadi sewaktu makan siang, ada sebuah mesej masuk dari Mayang.
“Mas, rak bukunya sudah sampai. Niy aku lagi nata-nata buku.”

Hari sudah menginjak sore. Kulirik jam tanganku dan kuperkirakan aku sampai rumah sebelum jam lima. Kupacu motorku menuju rumah kontrakan yang letaknya cukup jauh dari tempat gathering tadi. Sesampainya di rumah, aku langsung menuju ruang tengah. Mayang yang tadi menyambutku di pintu depan pun mengikutiku dari belakang.

Tepat. Sesuai dengan rencana, ukuran almari itu pas dengan lebar sekat untuk ruang tengah. Almari itu pun berdiri kokoh sesuai dengan letak yang kukatakan pada tukang kayu kemarin. Tukang kayu itu benar-benar menjalankan tugasnya dengan baik. Tapi, lemari itu hanya terisi separuh. Separuhnya lagi masih kosong.

“Lho? Buku-buku yang lain mana Dek? Kok almarinya nggak keisi penuh?” tanyaku pada Mayang.
“Masih di kamar. Yang kutata di almari besar ini memang buku-buku punya Mas yang dibeli sejak membujang dulu. Daripada cuma ditaruh di kardus terus digeletakin di deket dapur.” jawabnya ringan.
“Lalu buku-bukumu?” tanyaku lagi.
“Ya biar di kamar saja, seperti biasanya. Aku nggak bisa tidur kalo nggak deket ma buku, Mas kan tahu sendiri kebiasaanku kek apa..” jawabnya lagi.

Aku benar-benar naik pitam kali ini. Niat awalku membeli rak buku itu memang untuk memindahkan semua buku-buku yang ada di kamar tidur kami. Aku masuk ke kamar dan berniat untuk memindahkan buku-buku yang ada disana.

“Lho Mas? Buku-buku yang ini biar disini saja.” kata Mayang ketika melihatku menyusun buku-buku itu dengan tujuan untuk dipindahkan.
“Tidak akan ada buku-buku lagi di kamar kita, Dek.” kataku ketus.
“Kenapa? Apa alasannya?” sergah Mayang sembari mendekatiku.
“It's enough, Dek. Mas pengen kita punya ruangan privasi. Ruangan kita berdua. Cuma aku dan kamu.” kataku menegaskan.
“Lah.. Selama ini memang ada siapa? Jangankan ruangan, di rumah ini pun cuma ada kita berdua mas. Tidak ada orang lain. Privasi apa lagi yang Mas maksut?” tanyanya.
“Memang tidak ada orang lain di rumah ini selain kita berdua. Tapi ada dia!” jawabku kembali ketus sambil menunjuk tumpukan buku-buku di sudut ruangan.
“Dia?” tanyanya dengan menunjukkan wajah bingung.

“Aku cemburu pada buku-buku itu Dek! Aku cemburu! Kau dengar?!” kataku dengan suara yang semakin meninggi.
Mayang tampak kaget mendengar kalimatku. Cemburu? Terdengar konyol memang. Tapi aku harus beralasan apalagi? Memang itulah yang aku rasakan. Setidaknya aku berusaha untuk jujur pada diriku sendiri. Dan juga mencoba berkata jujur tentang perasaanku pada Mayang. Mayang kini terdiam. Matanya mengarahkan seribu tanya pada kedua bola mataku.

“Mulai saat ini, semua buku-buku ini akan tinggal di luar. Tidak akan ada lagi buku di ruang tidur kita berdua.” kataku masih dengan nada emosi.
“Tapi mas..” suara Mayang hampir tidak terdengar.
“Cukup Dek. Cukup. Aku tidak meminta hal yang lebih padamu kali ini. Aku hanya memintamu untuk berpisah dengan buku-bukumu ketika kita berada di ruangan ini.” kataku memutus kata-katanya.

Wajah istriku itu kini tertunduk. Ada suara isakan tertahan disana. Dia menangis. Sejujurnya ada sesal pada diriku ketika melihatnya menangis. Aku tidak pernah tega mendengar Mayang menangis. Tapi kali ini egoku tampaknya masih jauh lebih besar dibanding rasa empatiku padanya. Kami diam dalam hening. Dan waktu pun serasa bergulir sangat lambat. Bahkan bagiku seperti berhenti.

Mungkin aku sedikit keterlaluan kali ini. Mengeluarkan kata-kata dengan nada yang meninggi. Kuakui aku lelah saat itu, lelah karena usai melakukan perjalanan jauh dan lelah melihat sikapnya yang tidak kunjung mengerti apa maksud dan inginku. Aku pun mulai mendekatkan diriku padanya. Kupegang kedua pundaknya dan kucari bola mata yang selalu kurindukan itu.

“Lihat Mas, Dek. Dan jawab pertanyaan, Mas.” pintaku padanya kali ini.
Mayang tetap menundukkan pandangannya. Terisak.
“Lihat mata Mas, Dek.” pintaku lagi.
Kali ini ia mengangkat kepalanya dan menatapku dengan wajah berhiaskan air mata.
“Jawab pertanyaan Mas, Dek.. Kau cinta Mas, kan?” tanyaku dengan suara serak. Aku tidak menangis memang, tapi langit hatiku serupa gerimis.
Mayang menganggukkan kepalanya pelan.
“Kau benar-benar mencintai Mas kan?” tanyaku lagi dengan suara yang semakin tercekat.
Mayang kembali menganggukkan kepala. Kali ini berkali-kali ia menganggukan kepala, walau tangis itu belum juga surut.
“Kalau Adek disuruh memilih, siapa yang lebih Adek cintai? Mas atau buku-buku itu?” kalimat tanyaku kali ini benar-benar mengandung sebuah harap. Harapan agar ia memilihku yang ingin memenangi cintanya.
Kali ini Mayang tidak menjawab. Tidak pula mengangguk atau pun menggeleng. Ia semakin sesak dalam tangisnya. Kepalanya semakin tertunduk. Tertunduk lebih dalam. Mayang memang tidak menjawab tanyaku, tapi aku merasa sudah memiliki jawaban atas tanyaku.

***

Malam kian larut. Tapi Mayang belum juga tertidur. Ia hanya menggonta-ganti posisi tidurnya dari kanan ke kiri, ataupun kiri ke kanan. Ia tampak gelisah. Aku tahu apa yang ia gelisahkan. Ini adalah malam pertama bagi Mayang tidur tanpa ditemani tumpukan-tumpukan buku. Sudah menjadi kebiasaan baginya, sejak bujang dulu, tidur disamping tumpukan buku-buku. “Rasanya nyaman saja. Merasa lebih tenang, Mas.” jawab Mayang ketika dulu aku pernah menanyakan alasan tentang kebiasaan anehnya itu.

Aku memilih untuk berpura-pura tidur. Mayang harus belajar untuk bisa berpisah dengan buku-buku itu. Pun sebenarnya ia tidak sepenuhnya berpisah dengan buku-buku itu. Buku-buku itu tidak kemana-mana, mereka semua hanya berpindah ruangan saja. Bahkan tidak jauh. Ketika pintu kamar dibuka pun, rak buku itu terlihat jelas dari tempat kami tidur. Tapi entah apa yang membuat Mayang tetap tampak gelisah. Apa karena pintu kamar tertutup? Tapi haruskah pintu kamar itu dibuka demi Mayang bisa menatap buku-buku itu menjelang tidur? Haruskah begitu?

Disampingku, Mayang tampak semakin tidak tenang. Ia bangun dari tempat tidur dan berjalan menuju pintu kamar.
“Mau kemana, Dek?” tanyaku spontan ketika menyadari bahwa ia sudah berdiri di depan pintu kamar.
“Kamar kecil.” katanya pelan.
Ia memang tidak berbohong. Suara kran dan gemericik air kamar mandi terdengar dari kamar tidur. Terdengar juga suara pintu kamar mandi ditutup. Tapi Mayang tidak segera kembali ke kamar tidur. Aku menunggunya. Mungkin sebentar lagi. Aku menungguhnya lagi. Sudah lima belas menit tapi ia tak juga kembali ke kamar. Penasaran, aku pun melangkahkan kaki keluar kamar.

Disana, kulihat ia duduk sendiri. Kakinya ia silangkan dan kepalanya tertunduk dalam di atas lututnya. Sesenggukan. Ah, Mayang.. Kenapa lagi dengan bidadari kecilku ini? Kenapa hari ini ia bersikap seperti anak kecil? Tapi emosiku sudah habis malam ini. Aku terlalu letih untuk berbicara dengan suara tinggi seperti sore ini.

Aku melangkah mendekati bidadari kecilku yang kini tengah menangis sendiri. Aku memeluknya dari belakang.
“Menangislah Yang, menangislah sepuasnya.” bisikku padanya.
Mayang membalikkan badannya dan menenggalamkan kepalanya dalam pelukku. Ia terus menangis. Bahkan lebih lama dari tangisnya sore tadi.

“Cup.. cup.. Maafin Mas ya, Yang.. Mas tau Mas yang salah. Tidak seharusnya Mas bersikap terlalu cemburu padamu. Maafkan Mas ya, Yang..” kataku menenangkannya.
Mayang menjauhkan badannya dariku. Ia mengusap air matanya. Kemudian menggeleng.
“Nggak, Mas nggak salah..” katanya lirih.
“Tak.. Mas yang salah. Mas yang salah karena Mas cemburu. Mas yang salah karena Mas memindakan buku-bukumu. Mas yang salah karena membuatmu men..” jari telunjuknya sudah mendarat di bibirku sebelum aku menyelesaikan kalimatku.

“Mas nggak salah.. Mas benar.. Adek yang salah..” katanya sambil mengusap kembali air matanya. Kemudian ia melanjutkan lagi kalimatnya,
“Mustinya Adek yang lebih peka. Peka dengan sikap Mas selama ini, peka dengan sikap cemburu Mas terhadap buku-buku itu. Tapi Adek cuek bebek..” katanya menyeringai.
“Terus?” kali ini aku bertanya mengikuti gaya bicaranya yang bernada manja.
“Ya.. Adek instropeksi diri saja. Selama ini ternyata Adek yang salah. Harusnya Adek sadar kalo sekarang Adek sudah tidak hidup sendiri lagi. Adek sudah hidup sama Mas. Hidup jadi istri Mas. Dan itu artinya Adek sudah tidak bisa ego lagi. Harus bisa menyesuaikan diri dengan keinginan-keinginan Mas. Keinginan-keinginan keluarga kecil kita.” katanya tampak dewasa.

“Begitu ya?” tanyaku lagi. Kali ini aku benar-benar tergoda untuk menggodanya.
“Hu'um. Mulai sekarang Adek akan belajar untuk nggak sering-sering berkutat dengan buku ketika ada di dekat Mas..” katanya sambil tersenyum malu.
“Bener? Nanti buku-buku di rak itu Adek pindah lagi ke kamar pas tengah malam. Alasannya, jadi nggak bisa tidur karena jauh dari buku..” kataku menggodanya lagi.
“Ah.. Mas ini upu ciy? Nggak segitunya kaleeeee.. Lagian bukunya kan buanyiak, tadi aja Mas mindahin bukunya sampe ngos-ngosan kan?” katanya kali ini berbalik menggodaku.
“Iya. Dan Adek cuma duduk di atas tempat tidur sambil nangis sesenggukan. Boro-boro bantuin ngangkat kek, nyusun buku kek, nata buku di rak kek.. Ini malah diem aja, sambil nangis nggak berhenti-henti pula.” jawabku sewot.
“Biarin aja. Kan Adek lagi sedih.” katanya dengan wajah manyun.
“Jadi malem ini nangis karena sedih juga?” tanyaku dengan sedikit sebal.
“Hu'um.. tapi bukan sedih karena buku.” jawabnya singkat.
“Lalu karena apa?” tanyaku penasaran.
“Adek nangis malem ini karena sedih dah bikin Mas marah tadi sore.. Adek nyesel aja dah bikin Mas marah dan cemburu gara-gara buku. Adek bener-bener nggak peka ya mas?” tanyanya dengan ekspresi polos.
“Iya. Adek emang gak peka sama Mas.” kataku sok sebal.
“Maafin Adek ya Mas. Insya Allah ke depan nggak kejadian lagi deh. Adek janji bakal belajar lebih peka..” katanya merajuk.
“Iya.. Katanya life is a never ending learning?” kataku menggunakan kalimat yang sering ia ucapkan.
“Hu'um.. Dan membaca buku itu juga salah satu wujud life is a never ending learning. Tapi Mas tetep ngebolehin Adek baca dan beli banyak buku kan?” tanyanya dengan penuh harap.
“Ya iya lah masak ya iya dong.. Asal, baca bukunya lihat-lihat waktu dan tempat.. Terus kalo beli buku mbok ya dibikin prioritas tho Dek, biar bukunya nggak numpuk-numpuk karena belum tersentuh.” jawabku panjang lebar.
“Mmm.. Ya.. Nanti Adek coba ya Mas. Hehehe..” jawabnya cengengesan.
“Ya.. Tapi bener ya, Adek mencoba untuk bisa berubah?” tanyaku lagi.
“Insya Allah.. Ingetin Adek ya Mas kalo Adek lupa..” pintanya.
“Iya.. Insya Allah ya Yang..” kataku dengan mesra.

Penasaran dengan pertanyaanku tadi sore yang belum dijawab olehnya, malam ini kutanyakan lagi pertanyaanku.
“Jadi, Adek ini sebenarnya lebih cinta supu? Lebih cinta Mas apa buku-buku itu?” tanyaku penasaran.
“Ya jelas cinta buku laaaaahhh.. Pertanyaan retoris kek gitu kok masih ditanya.” katanya dengan wajah tenang tanpa ekspresi.
Aku cemberut. Sebal saja mendengar jawabannya yang kali ini benar-benar tidak menunjukkan kepekaan terhadap jawaban yang diinginkan suami dari istrinya. Melihat mulutku yang manyun dan wajahku yang ketekuk-tekuk, Mayang segera melanjutkan kalimatnya.
“Mas ini lho.. Ya jelas cinta Mas lah.. Lebih cinta Mas seribu kali lipat dibanding buku-buku itu..” kata Mayang sembari menatapku lembut.
“Bener?” tanyaku lagi.
“Iya Mas.. Coz love is you..” katanya lagi. Kalimatnya kali ini benar-benar membuatku melambung.

“Eh mas, sekarang Adek gantian nanya ke Mas ya.. Boleh tak?” kata Mayang kemudian.
“Mau nanya apa siy, Dek.. Mas jelas lebih cinta Adek lah daripada buku-buku Mas..” kataku ke-GR-an.
“Bukan.. Adek nggak nanya itu. Kalo dibandingin ma buku-buku punya Mas mah, Adek jelas menang jauuuuuhhh.. Buku-buku Mas aja ditelantarin di deket dapur, tertutup rapi di dalam kardus.” jelasnya dengan ke-GR-an juga. Walau kalimat Mayang ini, ada benarnya juga. Hehehe..
“Lalu Adek mau tanya upu? Hm?” tanyaku melanjutkan.
“Mmm.. Kalo Mas manggil Adek dengan “Yang” itu, sebenarnya Mas lagi manggil Adek dengan panggilan “Sayang” ato “Mayang”?” tanyanya dengan wajah serius.
Ah, Mayang. Ada-ada saja. (http://www.akusukamenulis.wordpress.com/)

Comments

Komentar

Tidak akan dipublikasikan, hanya untuk kepentingan komunikasi belaka
  • Web page addresses and e-mail addresses turn into links automatically.
  • Allowed HTML tags: <a> <em> <strong> <cite> <code> <ul> <ol> <li> <dl> <dt> <dd>
  • Lines and paragraphs break automatically.

More information about formatting options

5 + 9 =
Solve this simple math problem and enter the result. E.g. for 1+3, enter 4.

majalah tinta

User login